Aturan Baru Sebelum Naik Pesawat, Petugas Lakukan Pemeriksaan HP Berserta Candaan Bom

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso mengatakan, pemeriksaan dilakukan untuk meminimalisir penyamaran bom maupun benda berbahaya lainnya dalam bentuk alat elektronik.

Agus memastikan masyarakat tetap dapat membawa laptop dan smartphone ke dalam pesawat.

“Kenapa harus diperiksa? Karena sekarang ini orang semakin pintar. Kita ingin memastikan tidak ada penyamaran bom dalam bentuk laptop. Untuk memastikan itu adalah laptop bukan bom,” ungkap Agus di Gedung Angkasa Pura II, Jakarta, Selasa (4/4).

Agus mengatakan, negara lain bahkan mewajibkan penumpang memasukkan alat elektronik ke dalam bagasi setelah dilakukan pemeriksaan.

Di Indonesia, pemerintah memperbolehkan alat elektronik dibawa ke dalam pesawat dan bagasi dengan terlebih dahulu melewati pemeriksaan otoritas bandara.

“Di luar negeri ada aturan seluruh bentuk benda berupa laptop harus dimasukkan ke dalam bagasi. Itu diterapkan di negara tersebut. Untuk Indonesia baik di jinjing atau disimpan di bagasi harus diperiksa di security, hanya untuk pemeriksaan,” ungkapnya.

Agus mengatakan pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kenyamanan penumpang terpenuhi selama menggunakan jasa pelayanan bandara.

Selain itu, keamanan penumpang merupakan prioritas otoritas bandara, airline dan stakeholder terkait ketika akan melakukan penerbangan.

“Tidak ada larangan membawa laptop ke pesawat. Yang ada adalah pemeriksaan ekstra terhadap alat ini. Apakah itu alat atau benda lain. SOP ini dilakukan merupakan prioritas servis dari saudara sekalian, agar semuanya dipenuhi,” ungkapnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *