Mengapa Kita Mendambakan Hal yang Tak Bisa Dimiliki?

TamanBerita.Com Mengapa Kita Mendambakan Hal yang Tak Bisa Dimiliki? “Seringkali, hal-hal yang sangat kita dambakan adalah sesuatu yang tidak bisa kita miliki,” kata Meredith Grey dalam salah satu serial “Grey’s Anatomy”.

Keinginan atau hasrat memang bisa membuat kita patah hati, menderita karena tak bisa mencapainya.

Hasrat itu bisa berarti pekerjaan impian atau yang lebih sering adalah seseorang.

Selain itu, saat suatu hal tidak bisa kita gapai, kita makin menggebu-gebu menginginkannya.

Kamu mungkin akrab dengan situasi seperti ini: Punya gebetan yang sesuai dengan kriteria kekasih idaman versi kita dan pendekatan yang dilakukan mendapat sambutan.

Lantas, entah mengapa si dia mulai menjauh dan tak tertarik menjalin hubungan serius. Bukannya melepaskannya, kamu justru makin agresif mendekatinya, menelepon atau mengirim pesan berkali-kali.

Karena merasa terganggu, si dia pun makin menjauh, tapi kamu tidak bisa mengontrol diri untuk terus mendekat, berusaha memperbaiki apa yang mungkin salah di matanya.

Pendiri situs kencan A Little Nudge, Erika Ettin, memiliki teori mengapa kita sering menjumpai perilaku seperti itu.

“Semakin sedikit respon yang didapat dari orang yang kita beri perhatian, kita makin mengganggap orang itu memiliki nilai lebih. Jadi, kita akan berusaha lebih keras karena menganggap ia ‘layak dikejar’,” kata Ettin.

Ketika seseorang sibuk, pikiran kita akan berpikir bahwa ia mungkin menghabiskan waktu dengan orang. Ia pasti populer, sehingga pikiran primitif di otak kita membuat kita berpikir orang itu punya nilai lebih.

Faktanya, menurut Ettin, hal itu membuat kita menilai si dia lebih berharga dibanding diri sendiri.

“Karena ia tidak memberi respon, seharusnya kita jangan menganggapnya lebih bernilai. Padahal, bisa jadi ia memang tidak bisa berkomunikasi atau tidak sopan,” katanya.

Sayangnya, tidak semudah itu melepaskan hasrat terhadap seseorang.

Saat kita menyukai seseorang, otak kita akan melepaskan hormon dopamin ketika orang tersebut membalas pesan atau mengajak ketemuan.

Kita bisa ketagihan oleh hormon ini dan mulai menginginkan dosis lebih tinggi. Persis seperti narkoba.

Jika kita hanya mendapat perhatian sedikit-sedikit dari orang yang kita suka, makin kecanduan lah kita.

“Otak kita menyukai hal yang tak terduga karena hormon yang dilepaskannya lebih tinggi,” kata Ettin.

Hal ini bisa menjelaskan mengapa kita terus mengejar orang yang sebenarnya tidak tertarik.

“Jika kita bisa menarik diri dan memakai waktu dan energi kita untuk memberi perhatian pada apa yang kita miliki dibanding apa yang tidak bisa, kita bisa terhindar dari patah hati,” katanya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *