Harga Daging Ayam Terus Merangkak Naik, Pedagang Bakal Mogok?

TamanBerita.Com Harga Daging Ayam Terus Merangkak Naik, Pedagang Bakal Mogok? Ketua Perhimpunan Bandar dan Pedagang Ayam Jawa Barat, Yoyo Sutarya mengatakan sejak dua pekan pasca-Lebaran 2018, harga daging ayam potong dan filet terus merangkak naik. Akibatnya, sejumlah pedagang daging ayam di Bandung dan sekitarnya berhenti berjualan.

“Harga daging ayam potong saat ini Rp 44 ribu per kilogram dari harga normal Rp 32 ribu. Kalau ayam filet Rp 60 ribu – Rp 65 ribu dari harga normal Rp 45 ribu,” ucap Yoyo, Jumat (13/7/2018).

Ia mengakui para pedagang saat ini resah akibat kenaikan harga daging ayam. Bahkan Yoyo menyebut, 500 orang anggotanya saat ini sudah tidak berjualan.

“Pedagang sudah resah ya sebenarnya hampir 40 persen sudah tidak jualan. Selain itu, tukang ayam fillet juga tidak ada barang dan harus bisa menjual Rp 60 ribu per kilogramnya,” ujarnya.

Yoyo mengatakan pula, beberapa waktu ke depan, pihaknya akan menggelar pertemuan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat. Rencananya, mereka akan membahas solusi dari fenomena ini.

“Kami sudah berdiskusi secara internal dengan asosiasi, koperasi dan asosiasi pedagang daging ayam lainnya dan bakal melayangkan audiensi ke pemerintah. Kalau semingggu tidak ditanggapi kami mau turun ke jalan,” imbuhnya.

Jika tak kunjung ditanggapi, para pedagang daging ayam di Bandung juga mengancam akan melakukan aksi mogok berjualan. “Jangan salahkan kami karena konsumen saja sudah menjerit ya,” tuturnya.

Yoyo mengaku saat ini terdapat 5.000 anggotanya yang tersebar di Bandung Raya. Sebanyak 40 persennya sudah berhenti berjualan karena melambungnya harga daging ayam.

“Semuanya sudah minta mogok. Tapi kita bilang jangan lah audiensi dulu kalau tidak ditanggapi baru mogok,” ujarnya.

Yoyo menambahkan, selain di Bandung, harga daging ayam juga mengalami kenaikan di daerah lain seperti Sumedang, Garut dan Ciamis. “Informasinya sudah mencapai Rp 50 ribu per kilogramnya,” ucapnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat Dewi Sartika menyebutkan, kenaikan harga daging ayam disebabkan biaya produksi yang meningkat.

Dia menjelaskan, pertama harga DOC (Daily on Chick). Ayam yang panen minggu kemarin masuk kandang seminggu sebelum Lebaran. Lalu, ayam yang akan keluar minggu depan keluar baru masuk kandang sepekan usai Lebaran.

“Jadi, memang dari masukannya juga sudah mahal. Kedua, harga dolar naik, sehingga harga pakan naik,” tutur Dewi.

Ketiga, soal Antibiotik Growth Promoter (AGP) atau antibiotik imbuhan pakan. Praktik ini dalam sektor perunggasan sudah dilarang di seluruh dunia. Sementara, pengganti AGP sendiri butuh biaya tambahan.

“Sampai sekarang belum ada penggantinya, sehingga menyebabkan adanya beberapa konversi pakan di kalangan peternak ayam. Jadi itu sudah membuat tambahan biaya,” papar Dewi.

Di sisi lain, ia menyebutkan, kondisi cuaca akhir-akhir ini yang cenderung lebih dingin dari biasanya juga ikut memengaruhi harga daging ayam. Alhasil, peternak harus membuat dinding bruder yang biasa 2 minggu menjadi 3 minggu.

“Harga di ternak sudah Rp 21 ribu, masuk broker 28-29 ribu. Rata-rata Rp 40 ribu, ada juga yang Rp 42 ribu di pasar,” ujarnya.

Selain kenaikan harga daging ayam, Dewi mengakui harga telur juga ikut melonjak. Telur yang dibeli dari Blitar sudah mengalami kenaikan sebesar 35 persen.

“Untuk telur dari sananya juga sudah mahal, Rp 25 ribu dan masuk ke kita Rp 28 ribu,” kata dia.

Dewi menjelaskan, pihaknya sedang mengupayakan agar harga daging dan telur ayam kembali stabil. Di hulu, peternak ayam diberikan penyuluhan terkait lingkungan kandang. Termasuk bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi untuk mencari solusi terkait AGP.

“Soal harga naik ini tidak di hulu, tapi di hilir. Kemarin Menteri Perdagangan mengumpulkan pelaku industri unggas. Dan tentunya harapannya, hal ini jadi perhatian untuk semua kalangan,” tuturnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *