3 Senjata Maut Indonesia Siap Jagal Kapal Induk Belanda saat Trikora

TamanBerita.Com  3 Senjata Maut Indonesia Siap Jagal Kapal Induk Belanda saat Trikora. Tri Komando Rakyat (Trikora) merupakan sebuah operasi militer berskala penuh dan terbesar yang pernah dilakukan oleh Indonesia.

Tujuan Trikora hanya satu, yakni merebut Irian Barat agar kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Tapi apa lacur, tahun 1960-an angkatan perang Indonesia masih kekurangan beragam senjata berat untuk berkonfrontasi dengan Belanda.

Terlebih didalam negeri sendiri terjadi pemberontakan di sana-sini yang mengakibatkan terpecahnya kekuatan Indonesia.

Namun kembalinya Irian Barat ke Ibu Pertiwi merupakan prioritas utama pemerintah saat itu.

Kemudian diutuslah Jenderal Abdul Haris Nasution untuk pergi ke Moskow, Uni Soviet.

Tujuannya cuma satu, membeli senjata dalam jumlah sangat besar dari negeri Beruang sebagai bekal menghadapi Belanda di medan peperangan.

Walaupun akhirnya perang tak jadi meletus.

Pihak Indonesia juga mengetahui bahwa Belanda mengirim kapal induk Hr.Ms.Karel Doorman ke Hollandia (Jayapura) untuk memperkuat posisi mereka disana.

Karel Doorman kemudian dianggap sebagai lambang kekuatan Belanda oleh militer Indonesia di Irian.

Maka Karel Doorman dijadikan sebagai target utama militer Indonesia untuk segera dijagal alias ditenggelamkan keberadaannya.

Maka dari Uni Soviet didatangkan tiga jenis senjata maut untuk mengeksekusi Karel Doorman, ketiganya adalah :

3. Rudal anti kapal Styx/P-15 Termit

P-15 Termit merupakan rudal anti kapal yang dibuat oleh biro desain Raduga Uni Soviet.

Styx merupakan kode penyebutan NATO untuk rudal maut ini.

Styx juga merupakan rudal anti kapal generasi pertama milik TNI AL saat itu.

Dengan hulu ledak mencapai 500 kg high explosive bisa dipastikan Karel Doorman bakalan tenggelam jika disengat oleh rudal ini.

2. Torpedo SAET-50

Selanjutnya ada torpedo maut bernama (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda) atau SAET-50.

Boleh dikatakan SAET-50 adalah torpedo paling canggih saat itu yang hanya dipunyai oleh Uni Soviet dan Indonesia.

Dengan diamater 533mm dan mengusung hulu ledak 375 kg, maka SAET-50 merupakan ancaman serius bagi kapal induk Karel Doorman.

Sangarnya, setelah diluncurkan dari lubang torpedo maka SAET-50 akan menguber sendiri targetnya sendiri (fire and forget) melalui pengenalan suara baling-baling kapal.

1. Raduga KS-1 Komet

Terakhir dan yang paling membuat Belanda beserta Karel Doorman-nya gentar dan keluar dari Irian Barat adalah rudal penjagal kapal Air to Ground, Raduga KS-1 Komet.

Untuk kode NATO sendiri KS-Komet diberi nama AS-Kennel 1.

Rudal ini berukuran sangat bongsor, yakni sama ukurannya dengan jet tempur MiG 15 Fagot.

Rudal Raduga KS-1 Komet dibawa oleh pesawat pembom jarak jauh kebanggaan AURI saat itu, Tupolev TU-16 Badger.

Analis barat bahkan berujar cukup dua buah KS-1 Komet untuk mengirim Hr.Ms.Karel Doorman ke dasar lautan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *