Semangat Mandiri hingga Napas Terakhir Loper Koran dan 3 Anaknya

TamanBerita.Com Semangat Mandiri hingga Napas Terakhir Loper Koran dan 3 Anaknya. Agussalim (35) mengembuskan nafas terakhir di dalam gubuk reyot miliknya yang berukuran 4X4 meter, akhir pekan lalu. Loper koran lokal di Kota Kendari itu, tak berumur panjang usai kerap diserang maag akut sejak 2012 lalu.

Sering terlambat makan dan kelelahan menjadi alasan utama Agussalim tertimpa penyakit itu. Sebab, selain karena pekerjaannya yang kebanyakan berada di jalan raya, kondisi ekonominya juga memprihatinkan.

Pada 2012, Agussalim sempat dibawa ke rumah sakit oleh istrinya. Namun, karena tak cukup biaya, rupanya itu terakhir kalinya dia menginjakkan kaki di rumah sakit.

Di gubuk itu yang nyaris roboh itu dia bersama Siti Mutiara (33) istrinya, menetap sejak 2013. Bersama tiga orang anaknya, mereka merantau dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada 2012.

Di rumah yang hanya memiliki dua kamar dan berdinding papan dan tenda bekas itu Agussalim dan keluarga beristirahat, melepaskan penat setelah beraktivitas sehari-hari. Kumuh dan berantakan, kesan pertama saat melihat tempat loper koran itu tinggal.

Saat menginjakkan kaki di pondok yang berlokasi di Jalan La Ode Hadi, Kelurahan Bonggoeya, Kendari itu, terdengar suara lantai kayu yang mulai rapuh. Bahkan, kaki sejumlah pembesuk sempat terperosok saat membawa sedekah puluhan kilogram beras, telur, mi instan, dan minyak goreng.

Di kamar depan yang tak layak disebut ruang tamu, ada semacam meja, merangkap tempat tidur dan meja makan yang dilengkapi tikar dari anyaman bambu.

“Ini rumah kami sendiri yang buat, hasil dari saya dan bapak menjual koran dan tisu di lampu merah,” ujar Tiara, sapaan istri Agussalim.

Tanah tempat berdirinya rumah, diungkapkan Tiara, dipinjamkan salah seorang warga Kota Kendari. Warga yang tak dia ingat namanya itu, meminjamkan tanah untuk membangun gubuk hingga mereka punya rumah sendiri.

“Tapi, belum sempat punya rumah, bapak sudah meninggal. Sekarang, saya yang merawat ketiga anak saya,” ujar Tiara.

Dua dari tiga orang anaknya, kini duduk di sekolah dasar. Paling sulung, Herman Lili (13), kelas 3 SD. Adiknya, Rika (12) duduk di kelas 2 SD. Rustam Marzuki (6) paling bungsu, belum bersekolah.

Tiara, istri Agussalim mengatakan, untuk makan sehari-hari mereka sering dikasih tetangga. Bukannya tak mampu membeli makanan, tetapi jika tetangga memberi, semua lauk pasti lengkap.

“Kalau tetangga yang bawa, ada sayur, ikan, dan nasi,” ujar Tiara.

Meskipun sehari-hari menjajakan koran bersama suaminya, kehidupan keduanya sangat sulit. Sebab, ketiga anaknya terus tumbuh dan memerlukan biaya yang semakin besar, terutama untuk biaya sekolah.

“Kalau pagi, saya jual tiga koran lokal. Kadang uangnya tidak cukup. Jadi saya kalau sudah sore jualan tisu,” katanya, sambil menyebut sejumlah nama koran harian lokal Kendari.

Herman Lili, anak sulung loper koran di Kendari itu mengatakan, rumahnya tak cukup nyaman bagi dirinya dan adik-adiknya. Namun, karena persoalan ekonomi keluarganya, dia harus menerima keadaan itu.

“Saya hanya bisa bantu ibu sedikit-sedikit, mudah-mudahan kalau sudah besar bisa bantu banyak,” ujar Herman Lili sedih.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *