Mengapa tingkat bunuh diri di America Serikat meningkat?

TamanBerita.Com Mengapa tingkat bunuh diri di America Serikat meningkat? Sebuah penelitian baru yang dilakukan pemerintah AS mengungkapkan bahwa tingkat bunuh diri meningkat secara nasional sejak 1999.

Angka itu dirilis pada minggu tewasnya perancang Kate Spade dan koki selebriti Anthony Bourdain yang membuat isu ini semakin terdengar.

Tetapi apa yang memacu peningkatan bunuh diri yang terus-menerus di Amerika ini?

Sebanyak itulah peningkatan bunuh diri di lebih dari setengah negara bagian AS sejak 1999, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Kenaikan keseluruhan nasional adalah sekitar 25%.

Ini berarti bahwa sekitar 16 dari setiap 100.000 orang Amerika akan melakukan bunuh diri.

Hampir 45.000 orang Amerika bunuh diri pada tahun 2016.

Menurut data CDC, bunuh diri meningkat di antara semua jenis kelamin, usia, ras dan kelompok etnis.

Peneliti utama Dr Deborah Stone mengatakan kepada BBC bahwa badan itu telah melacak kenaikan selama beberapa waktu terakhir.

“Mengetahui bahwa tingkat bunuh diri meningkat, kami [ingin] melihat tingkat dan faktor-faktor yang berkontribusi,” kata Dr Stone.

“Ada 25 negara bagian yang mengalami peningkatan lebih dari 30% – itu adalah temuan baru bagi kami.”

Hampir semua negara bagian itu berada di wilayah barat dan tengah AS.

Meskipun tidak ada faktor tunggal yang mengarah ke bunuh diri, Dr Stone mengatakan masalah hubungan dan keuangan cenderung menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap bunuh diri di seluruh negeri itu.

Dia juga mencatat bahwa beberapa negara bagian di barat memiliki tingkat bunuh diri tertinggi secara historis, yang dapat dikaitkan dengan fakta bahwa lokasi mereka di rural.

Negara-negara bagian rural, jelasnya, masih belum pulih dari kemerosotan ekonomi. Orang-orangnya juga cenderung lebih terisolasi, tanpa akses ke perawatan yang tepat. Dan, negara-negara bagian ini juga terpukul keras oleh epidemi opium.

Prof Julie Cerel, presiden American Association of Suicidology, mencatat bahwa memiliki standar pelaporan yang lebih baik dapat menjelaskan sebagian peningkatan yang terjadi, tetapi juga menunjukkan kurangnya dana yang memadai untuk penelitian kesehatan mental dan perawatan pencegahan.

“Sistem kesehatan mental kami buruk di seluruh negeri,” kata Prof Cerel. “Dalam hal melatih profesional kesehatan mental, kami tidak melakukan pekerjaan yang hebat.”

Pada 2018, hanya 10 negara bagian yang mengamanatkan pelatihan pencegahan bunuh diri bagi para profesional kesehatan.

Dan Prof Cerel mengemukakan masalah kesehatan publik yang lain, meskipun sering kali dikesampingkan – senjata api.

“Perdebatan senjata di AS selama ini adalah tentang penembakan di sekolah yang mengerikan, dan kami ingin mencegahnya, tetapi sebagian besar kematian akibat senjata api adalah akibat bunuh diri,” katanya.

Faktanya, dua pertiga kematian yang berhubungan dengan senjata di Amerika adalah bunuh diri, menurut CDC.

“Kami tidak membicarakan hal itu di AS karena ada stigma terhadap kesehatan mental. Orang-orang mengira bunuh diri itu berbeda – mengapa mereka menginginkan kontrol akan senjata? Tak seorang pun di keluarga mereka akan melakukan itu.”

Penelitian CDC menemukan bahwa 54% orang Amerika yang tewas akibat bunuh diri tidak memiliki penyakit kesehatan mental yang diketahui.

Dr Jerry Reed dari Aliansi Aksi Nasional untuk Pencegahan Bunuh Diri (National Action Alliance for Suicide Prevention) mengatakan kepada BBC bahwa meskipun ada “hubungan pasti antara penyakit mental yang serius dan perilaku bunuh diri”, para ahli telah menemukan bunih diri bukan hanya terkait kesehatan mental.”Kondisi ekonomi atau peluang mata pencaharian yang menurun dapat membawa orang ke posisi di mana mereka berisiko (melakukan bunuh diri). Kita perlu campur tangan baik dalam kasus-kasus mental dan kesehatan masyarakat,” kata Dr Reed.

Prof Cerel juga menunjukkan bahwa banyak orang yang didiagnosis dengan penyakit mental tidak pernah bunuh diri.

“Ini bukan hal yang sederhana ‘mereka memiliki masalah mental, mereka bunuh diri”

Dia menambahkan, bagaimanapun, bahwa data yang ada mungkin kurang mewakili tingkat sebenarnya akan penyakit mental di AS.

“Apakah [para petugas] berpikir itu kesehatan mental atau tidak didasarkan pada kotak pada formulir yang diperiksa oleh pemeriksa medis,” katanya.

“Jika mereka tidak memiliki anggota keluarga untuk diajak bicara di tempat kejadian, mereka tidak tahu apakah kasusnya adalah kesehatan mental. Sebagian koroner kembali lagi dan melakukan penyelidikan menyeluruh, sebagian lagi tidak.”

Dr Stone mengatakan penelitian CDC menunjukkan kehilangan orang yang dikasihi, penyalahgunaan obat-obatan, kesehatan fisik, pekerjaan dan masalah hukum adalah faktor-faktor penting.

“Jika kita fokus hanya pada satu hal, kita akan kehilangan orang-orang yang berpotensi berisiko,” katanya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *